Dalam sebuah buku bergambar, karakter memang sering menjadi pusat perhatian. Namun, lingkungan tempat karakter berada juga mempunyai peran penting dalam membangun cerita. Sebuah tokoh yang berdiri di tengah hutan, misalnya, akan memberikan kesan berbeda dibandingkan tokoh yang sama ketika berada di jalan perkotaan atau ruangan yang kosong.

Latar bukan sekadar tempat untuk meletakkan karakter. Bentuk bangunan, pepohonan, kondisi cuaca, pencahayaan, dan benda-benda di sekitar tokoh dapat memberikan informasi mengenai waktu, suasana, serta keadaan yang sedang berlangsung.

Tantangannya adalah membuat lingkungan yang cukup menarik untuk memperkaya cerita, tetapi tidak terlalu ramai hingga mengganggu perhatian pembaca. Ilustrator perlu mengatur hubungan antara karakter dan lingkungan melalui komposisi, warna, perspektif, serta tingkat detail.

1. Memahami fungsi latar dalam sebuah cerita

Sebelum menggambar lingkungan, tentukan terlebih dahulu fungsi latar dalam adegan tersebut. Tidak semua latar harus mempunyai banyak detail. Ada adegan yang membutuhkan lingkungan luas untuk memperlihatkan perjalanan, sementara adegan lain hanya memerlukan beberapa objek sebagai petunjuk lokasi.

Setidaknya terdapat beberapa fungsi penting latar dalam buku bergambar.

Menunjukkan lokasi dan waktu. Bentuk bangunan, kondisi alam, pencahayaan, dan benda di sekitar karakter dapat membantu pembaca memahami tempat serta waktu berlangsungnya cerita.

Membangun suasana. Hutan berkabut, pantai saat matahari terbenam, atau ruangan dengan cahaya redup dapat menghadirkan suasana yang berbeda meskipun karakter dan aktivitasnya sama.

Memberikan informasi tambahan. Sebuah kamar dengan banyak buku, peta, dan alat gambar dapat memberi petunjuk mengenai kebiasaan atau minat karakter tanpa harus dijelaskan melalui dialog.

Mendukung perkembangan cerita. Perubahan lingkungan dari halaman ke halaman dapat menunjukkan perjalanan, pergantian waktu, atau perubahan keadaan tokoh.

Penelitian mengenai buku bergambar yang diterbitkan dalam jurnal South African Journal of Education menjelaskan bahwa setting dapat menyampaikan lokasi, memperkuat karakterisasi, membangun suasana, serta memberikan informasi penting bagi perkembangan narasi.

Dengan memahami fungsi tersebut, ilustrator dapat menentukan elemen mana yang perlu ditampilkan dan mana yang sebaiknya dihilangkan.

2. Mulai dari hubungan antara karakter dan lingkungan

Latar yang baik harus mempunyai hubungan yang masuk akal dengan karakter dan aktivitasnya.

Jika tokoh sedang mencari sesuatu di taman, lingkungan dapat menampilkan tanaman, jalan setapak, bangku, atau benda kecil yang berkaitan dengan pencarian tersebut. Namun, apabila semua elemen digambar dengan detail yang sama, perhatian pembaca mungkin justru beralih dari karakter.

Sebelum membuat gambar, tanyakan beberapa hal:

  • Apa yang sedang dilakukan karakter?
  • Di mana peristiwa berlangsung?
  • Benda apa yang penting bagi adegan?
  • Bagaimana lingkungan memengaruhi suasana?
  • Apakah ada informasi cerita yang bisa disampaikan melalui latar?

Contohnya, sebuah cerita tentang anak yang menemukan rumah tua dapat menggunakan pintu kayu yang sedikit terbuka, jendela berdebu, dan tanaman yang tumbuh tidak terawat. Elemen tersebut sudah cukup untuk memberikan kesan bahwa bangunan jarang dikunjungi.

Ilustrator tidak harus menampilkan seluruh isi bangunan. Beberapa petunjuk visual yang dipilih dengan tepat sering kali lebih efektif daripada gambar yang dipenuhi benda tanpa fungsi.

3. Gunakan foreground, middle ground, dan background

Salah satu cara mengatur kedalaman adalah membagi komposisi menjadi tiga lapisan ruang.

Foreground merupakan bagian paling dekat dengan pembaca. Elemen seperti batang pohon, rumput, batu, atau pagar dapat ditempatkan di bagian ini.

Middle ground adalah bagian tengah yang sering menjadi tempat karakter atau aktivitas utama berlangsung.

Background merupakan bagian yang berada paling jauh, seperti gunung, bangunan di kejauhan, pepohonan, atau langit.

Pembagian ini membantu menciptakan kesan ruang meskipun ilustrasi hanya berupa gambar dua dimensi. Oak National Academy menjelaskan penggunaan tiga lapisan tersebut sebagai salah satu dasar untuk memperlihatkan kedalaman dalam komposisi pemandangan.

Sebagai contoh, ilustrasi seekor rubah yang berjalan di hutan dapat menempatkan tanaman besar di depan, rubah pada bagian tengah, dan pepohonan yang semakin kecil di kejauhan.

Perbedaan ukuran, posisi, dan tingkat detail membuat pembaca lebih mudah memahami jarak antarelemen.

Tidak semua gambar harus menggunakan tiga lapisan secara jelas. Ilustrasi dengan pendekatan minimalis bisa saja hanya menggunakan dua bidang, asalkan hubungan ruangnya tetap mendukung cerita.

4. Mengatur perspektif agar lingkungan terlihat meyakinkan

Perspektif membantu menunjukkan bagaimana ukuran dan posisi objek berubah berdasarkan jarak dari sudut pandang pembaca.

Dalam ilustrasi bangunan, garis perspektif dapat membantu membentuk dinding, lantai, jendela, dan jalan. Sementara itu, pada lanskap alam, perbedaan ukuran pohon, bukit, dan objek di kejauhan dapat digunakan untuk menunjukkan kedalaman.

Ilustrator tidak harus selalu menggunakan konstruksi perspektif yang sangat realistis. Buku bergambar sering mengubah ukuran atau sudut pandang untuk menghasilkan komposisi yang lebih ekspresif.

Misalnya, sebuah rumah dapat dibuat sedikit lebih besar daripada ukuran sebenarnya agar menjadi pusat perhatian. Jalan yang mengarah ke rumah dapat dibuat lebih menonjol untuk membantu mengarahkan pandangan pembaca.

Yang penting, keputusan tersebut harus konsisten dalam satu adegan. Bangunan dan objek yang berada pada bidang yang sama sebaiknya mempunyai hubungan perspektif yang masuk akal.

Sebelum menambahkan detail, buat garis konstruksi sederhana untuk menentukan posisi cakrawala, arah garis bangunan, dan ukuran objek berdasarkan jaraknya.

5. Pilih detail latar berdasarkan kepentingannya

Tidak semua bagian lingkungan perlu digambar secara terperinci. Detail sebaiknya diberikan sesuai dengan fungsi elemen dalam cerita.

Jika karakter sedang berdiri di depan rumah, bentuk rumah mungkin cukup jelas untuk menunjukkan jenis bangunannya. Namun, nomor rumah atau benda kecil di teras hanya perlu diperlihatkan apabila mempunyai hubungan dengan alur cerita.

Ada tiga kelompok detail yang dapat digunakan sebagai panduan:

Detail utama. Elemen yang berkaitan langsung dengan peristiwa, seperti pintu yang sedang dibuka, benda yang dicari, atau jalan yang akan dilalui karakter.

Detail pendukung. Elemen yang membantu membangun suasana dan menunjukkan karakter lingkungan, seperti pepohonan, jendela, pagar, atau awan.

Detail dekoratif. Elemen tambahan yang memperkaya permukaan gambar, seperti pola daun, tekstur dinding, atau batu kecil.

Detail dekoratif dapat memperindah ilustrasi, tetapi jumlahnya harus dikendalikan. Jika seluruh permukaan dipenuhi pola, karakter mungkin kehilangan tempat yang cukup untuk menjadi pusat perhatian.

Art Prof juga menekankan pentingnya merencanakan komposisi sebelum mengerjakan detail, karena keputusan mendasar mengenai susunan gambar jauh lebih mudah diperbaiki ketika masih berupa sketsa kecil.

6. Menggunakan warna untuk membedakan latar dan karakter

Warna merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengatur perhatian pembaca.

Jika karakter menjadi pusat cerita, pilih warna lingkungan yang mendukung penampilannya tanpa membuat keduanya saling bersaing. Karakter dengan pakaian berwarna terang, misalnya, dapat ditempatkan di lingkungan dengan warna yang lebih tenang.

Sebaliknya, karakter dengan warna yang relatif gelap mungkin membutuhkan latar yang lebih terang di sekitarnya agar bentuknya mudah dikenali.

Gunakan pula perbedaan intensitas warna berdasarkan jarak. Objek yang berada di depan dapat memiliki warna lebih kuat, sementara elemen yang jauh dapat dibuat sedikit lebih lembut atau kurang kontras.

Pendekatan tersebut membantu menciptakan kedalaman dan menjaga perhatian pada bagian utama ilustrasi. Panduan desain ilustrasi dari Open University menjelaskan bahwa kekuatan warna, skala, penempatan, serta tumpang tindih objek dapat digunakan untuk mengarahkan mata pembaca.

Warna juga dapat digunakan untuk menggambarkan perubahan suasana. Lingkungan yang sama bisa mempunyai penampilan berbeda ketika digambarkan pada pagi, sore, atau malam hari.

Karena itu, pemilihan palet sebaiknya dilakukan setelah suasana adegan ditentukan.

7. Gunakan garis pengarah untuk menghubungkan latar dengan karakter

Garis dalam lingkungan dapat membantu membawa perhatian pembaca menuju objek utama.

Jalan setapak, pagar, tepian sungai, susunan bangunan, dan cabang pohon dapat membentuk arah pandang yang mengarah pada karakter.

Misalnya, sebuah ilustrasi menampilkan anak yang berdiri di depan mercusuar. Jalan berbatu dapat dibuat mengarah secara diagonal menuju posisi anak tersebut, sehingga mata pembaca mengikuti jalur yang sudah disusun.

Elemen latar juga bisa digunakan sebagai bingkai alami. Cabang pohon di sisi gambar atau bentuk jendela dapat membatasi pandangan sehingga karakter di tengah terlihat lebih menonjol.

Namun, hindari terlalu banyak garis yang mengarah ke berbagai tujuan. Jika arah visual saling bertentangan, komposisi dapat terasa membingungkan.

Pilih satu jalur perhatian yang paling penting, kemudian gunakan elemen pendukung untuk memperkuatnya.

8. Menyesuaikan latar dengan suasana dan jenis cerita

Setiap cerita membutuhkan pendekatan lingkungan yang berbeda. Gambar untuk cerita petualangan mungkin memerlukan pemandangan luas, sedangkan cerita yang berfokus pada hubungan keluarga dapat menggunakan latar rumah dengan elemen yang lebih intim.

Untuk cerita petualangan, lingkungan dapat menampilkan jalan panjang, gunung, sungai, atau bangunan asing. Ruang yang luas membantu memperlihatkan skala perjalanan dan tantangan yang dihadapi karakter.

Untuk cerita kehidupan sehari-hari, latar bisa menggunakan benda-benda yang dekat dengan pengalaman pembaca, seperti meja makan, kamar tidur, halaman rumah, atau ruang bermain.

Untuk cerita misteri, ilustrator dapat mengurangi jumlah detail yang terlihat jelas dan memanfaatkan bayangan, kabut, atau sudut pandang yang menyembunyikan sebagian lingkungan.

Pilihan tersebut bukan formula yang harus diterapkan pada semua karya. Yang paling penting adalah memastikan lingkungan mendukung karakter dan peristiwa dalam cerita.

9. Menjaga konsistensi latar dari satu halaman ke halaman lain

Dalam buku bergambar, lokasi yang sama mungkin muncul berkali-kali. Oleh karena itu, bentuk lingkungan harus cukup konsisten agar pembaca mengenali tempat tersebut.

Misalnya, sebuah rumah mempunyai pintu merah, dua jendela di bagian depan, dan pohon besar di sisi kiri. Ketika rumah muncul kembali pada halaman lain, ciri-ciri tersebut perlu dipertahankan kecuali ada perubahan yang memang menjadi bagian cerita.

Buat lembar referensi lingkungan yang berisi tampilan utama, denah sederhana, warna dominan, serta posisi objek penting.

Lembar ini dapat membantu ketika ilustrator harus menggambar ruangan dari sudut pandang berbeda atau menunjukkan tempat yang sama pada waktu yang berbeda.

Perubahan yang terjadi pada lingkungan juga perlu direncanakan. Daun yang sebelumnya hijau dapat berubah menjadi kuning ketika cerita menunjukkan pergantian musim. Cahaya jendela dapat berubah ketika adegan berpindah dari siang ke malam.

Konsistensi bukan berarti latar harus selalu identik. Artinya, perubahan visual harus mempunyai alasan yang dapat dipahami pembaca.

10. Melakukan pemeriksaan sebelum ilustrasi diselesaikan

Setelah latar dan karakter selesai digambar, lihat kembali komposisi secara keseluruhan.

Periksa apakah karakter masih menjadi pusat perhatian, apakah lingkungan mudah dikenali, dan apakah detail yang ditampilkan mempunyai fungsi.

Cobalah beberapa pengujian sederhana:

  1. Perkecil gambar untuk melihat apakah karakter masih mudah ditemukan.
  2. Ubah sementara gambar menjadi hitam-putih untuk memeriksa kontras.
  3. Tutupi beberapa elemen latar untuk mengetahui apakah ada detail yang sebenarnya tidak diperlukan.
  4. Periksa hubungan perspektif antara objek dekat dan jauh.
  5. Bandingkan suasana gambar dengan peristiwa yang sedang diceritakan.

Apabila latar terasa terlalu ramai, kurangi detail di sekitar karakter atau turunkan kontras elemen pendukung.

Sebaliknya, apabila lingkungan terlihat kosong dan tidak memberikan petunjuk apa pun, tambahkan beberapa objek yang benar-benar mempunyai hubungan dengan cerita.

Proses evaluasi ini membantu menghasilkan gambar yang lebih seimbang tanpa harus mengorbankan keindahan lingkungan.

Latar dalam buku bergambar memiliki peran lebih luas daripada sekadar menunjukkan tempat terjadinya peristiwa. Lingkungan dapat membangun suasana, menunjukkan waktu, memperjelas hubungan antartokoh, serta memberikan petunjuk tambahan kepada pembaca.

Untuk menciptakan latar yang efektif, mulailah dengan memahami fungsi adegan, menyusun lapisan ruang, menentukan perspektif, dan memilih detail sesuai kepentingannya. Penggunaan warna dan garis pengarah kemudian dapat membantu menghubungkan lingkungan dengan karakter utama.

Dengan perencanaan yang baik, latar dapat memperkaya cerita tanpa mengalihkan perhatian. Setiap elemen mempunyai fungsi, dan seluruh komposisi bekerja bersama untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih kuat.